POLAJABAR.COM - Aktivitas transportasi darat di kawasan timur Kota Bandung masih menunjukkan dinamika yang unik pada masa peralihan fungsi fasilitas publik. Suasana hilir mudik armada bus dan calon penumpang kerap mewarnai area yang kini sedang disiapkan untuk proyek modernisasi moda transportasi massal.
Terminal Cicaheum yang berlokasi strategis di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, sebenarnya telah dihentikan operasional utamanya sejak akhir Juni 2026. Keputusan penutupan fasilitas yang telah beroperasi puluhan tahun ini menjadi bagian dari rencana penataan transportasi perkotaan.
Langkah penutupan tersebut dilakukan karena lahan terminal bakal disulap menjadi depo pengelola Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya. Area ini nantinya difungsikan secara khusus sebagai tempat perawatan, pengelolaan, serta penyimpanan seluruh armada bus modern tersebut.
Melalui skema kebijakan baru yang telah ditetapkan, seluruh pusat layanan keberangkatan penumpang dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Skema ini dirancang agar integrasi rute dan tata kelola transportasi di wilayah Bandung Raya dapat berjalan lebih teratur.
Namun, memasuki waktu satu bulan sejak kebijakan pemindahan tersebut diberlakukan, aktivitas angkutan umum di kawasan Cicaheum nyatanya belum sepenuhnya reda. Suasana terminal lama ini masih tampak disinggahi oleh berbagai armada bus antarkota.
Bus antarkota antarprovinsi (AKAP) serta antarkota dalam provinsi (AKDP) terlihat masih aktif mengangkut dan menurunkan warga di area tersebut. Kehadiran bus-bus ini menjadi sarana penunjang bagi masyarakat yang terbiasa mengakses transportasi dari wilayah timur Bandung.
Sebagian besar armada bus yang singgah di Cicaheum sejatinya tetap mematuhi regulasi awal dengan mengawali rute dari Terminal Leuwipanjang. Setelah memulai keberangkatan dari Leuwipanjang, para pengemudi kemudian mengarahkan kendaraannya untuk melintasi area Cicaheum.
Langkah ini diambil oleh para sopir guna memfasilitasi para penumpang yang belum sepenuhnya mengetahui informasi pengalihan layanan ke Terminal Leuwipanjang. Ketersediaan tempat persinggahan sementara ini membantu warga agar tidak terlambat menyesuaikan diri dengan pola rute baru.
Dikutip dari informasi setempat, proses penyesuaian lapangan ini diperkirakan terus berlangsung seiring masifnya sosialisasi terkait pemanfaatan penuh Terminal Leuwipanjang dan pembangunan depo BRT.
