POLAJABAR.COM - Eropa saat ini sedang berada di bawah cengkeraman gelombang panas yang sangat ekstrem sepanjang minggu ini. Fenomena cuaca ini tidak hanya mencatatkan rekor suhu tertinggi dalam sejarah pencatatan di kawasan tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan tingkat kelembapan yang tinggi, menciptakan kombinasi berbahaya yang berpotensi memicu peningkatan signifikan dalam angka kematian di berbagai negara Eropa.
Meskipun terdapat potensi ancaman iklim global lain seperti 'Super El Nino' yang membayangi Samudra Pasifik, para peneliti telah memberikan klarifikasi mengenai penyebab utama krisis panas kali ini.
Jaringan peneliti dari World Weather Attribution (WWA) secara tegas menyatakan bahwa El Nino bukan merupakan biang kelok utama dari gelombang panas yang melanda benua biru tersebut.
Mereka telah menyelesaikan studi terbaru yang secara definitif menunjuk pada satu faktor pendorong utama di balik anomali suhu yang terjadi.
Temuan studi tersebut mengarahkan tuduhan langsung kepada pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia sebagai kontributor paling besar atas kondisi panas yang melampaui batas normal.
Analisis data difokuskan pada suhu tertinggi yang tercatat selama periode tiga hari paling panas, yaitu antara tanggal 22 hingga 29 Juni, mencakup wilayah Eropa Barat dan Tengah.
Fenomena cuaca yang dikenal sebagai 'kubah panas' (heat dome) memang menjadi mekanisme yang menjebak udara panas dari selatan, namun intensitas panas yang dihasilkan kali ini benar-benar di luar prediksi normal.
Para ilmuwan dari jaringan World Weather Attribution menegaskan bahwa fenomena 'Super El Nino' yang membayangi Samudra Pasifik bukanlah penyebab utama dari gelombang panas ekstrem ini, demikian ditegaskan oleh jaringan tersebut.