POLAJABAR.COM - Masa libur sekolah semester genap tahun 2026 dijadwalkan akan segera berakhir dalam waktu dekat. Setelah menikmati waktu santai selama berminggu-minggu, kini para siswa harus bersiap untuk kembali memulai aktivitas belajar di ruang kelas.

Namun, momentum kembali ke sekolah ini sering kali diiringi dengan perubahan sikap yang cukup signifikan pada anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang mendapati anak mereka mendadak lesu, tidak bersemangat, hingga mengeluh enggan kembali bersekolah.

Kondisi enggan bersekolah ini ternyata tidak boleh dianggap sebagai rasa malas biasa yang bisa disepelekan begitu saja. Dalam bidang psikologi, fenomena menurunnya semangat setelah liburan panjang ini dikenal dengan istilah post holiday blues.

Fenomena tersebut merupakan sebuah bentuk respons emosional yang wajar terjadi ketika seseorang harus kembali ke rutinitas harian yang padat. Perubahan drastis dari masa liburan yang santai menuju jadwal sekolah yang ketat menjadi pemicu utama munculnya rasa enggan tersebut.

Gejala yang sering ditunjukkan oleh anak-anak antara lain adalah perubahan pola tidur, kecemasan, hingga hilangnya minat pada aktivitas harian. Oleh karena itu, anak-anak membutuhkan waktu adaptasi agar kondisi emosional mereka kembali stabil sebelum hari pertama sekolah dimulai.

Untuk mengatasi masalah ini, para orang tua disarankan mulai menerapkan kembali jadwal tidur dan bangun pagi yang teratur beberapa hari sebelum sekolah masuk. Langkah awal ini sangat penting untuk membantu jam biologis tubuh anak beradaptasi kembali dengan rutinitas pagi.

Selain itu, melibatkan anak dalam mempersiapkan perlengkapan sekolah seperti buku, seragam, dan alat tulis baru juga dapat memicu antusiasme mereka. Mengajak anak berdiskusi mengenai hal-hal menyenangkan yang akan ditemui di sekolah, seperti bertemu teman-teman, juga sangat dianjurkan.

Dengan penanganan yang tepat dan penuh kesabaran, anak-anak diharapkan dapat melewati fase transisi ini dengan baik dan kembali ceria di sekolah. Dikutip dari portal edukasi kesehatan, pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak menjadi kunci utama dalam mengatasi sindrom post holiday blues ini.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.