POLAJABAR.COM - Kontroversi tengah menyelimuti dunia maya setelah sebuah lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" menjadi viral di berbagai platform media sosial. Pencipta sekaligus penyanyinya adalah Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein.
Penyebab utama kegaduhan ini adalah lirik lagu yang dinilai oleh banyak pihak mengandung unsur stereotip negatif terhadap perempuan. Selain itu, lirik tersebut juga dianggap merendahkan pengalaman biologis yang dialami oleh kaum hawa.
Perdebatan publik ini mulai memanas ketika fragmen lirik lagu tersebut tersebar luas secara masif di internet. Fragmen ini membandingkan secara eksplisit antara pengalaman hidup kaum laki-laki dan perempuan dalam konteks tertentu.
Beberapa bagian lagu yang memicu kritik secara spesifik menyinggung topik sensitif seperti proses kehamilan, pengalaman keguguran, siklus menstruasi, hingga penggunaan atribut yang diasosiasikan dengan kaum perempuan. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan masyarakat.
Sejumlah pengamat dan aktivis menilai bahwa konten lirik tersebut bukan sekadar penyampaian humor ringan semata. Mereka berpendapat bahwa narasi yang dibangun dalam lagu tersebut secara substansial mengandung bias gender yang merugikan.
Menanggapi gelombang kritik yang signifikan tersebut, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein akhirnya angkat bicara mengenai polemik yang terjadi. Beliau menyampaikan penyesalannya atas dampak negatif yang ditimbulkan oleh karyanya tersebut.
"Lagu tersebut menuai polemik karena liriknya dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan dan dianggap merendahkan pengalaman biologis kaum perempuan," merujuk pada inti masalah yang terjadi akibat lagu tersebut.
Dikutip dari sumber berita, perdebatan ini bermula ketika potongan lirik lagu yang membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan beredar luas di berbagai platform media sosial. Hal ini menjadi titik awal penyebaran isu tersebut secara cepat di ruang digital.
"Beberapa bagian lagu menyinggung kehamilan, keguguran, menstruasi hingga penggunaan atribut perempuan," merupakan poin spesifik yang disorot oleh publik sebagai representasi bias gender dalam karya tersebut.