POLAJABAR.COM - Pasar komoditas energi global mencatat tren kenaikan harga batu bara yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi listrik di berbagai belahan dunia.

Pemicu utama kenaikan ini adalah kondisi cuaca ekstrem berupa gelombang panas global yang mendorong lonjakan konsumsi energi. Kebutuhan pendinginan yang tinggi secara langsung meningkatkan permintaan listrik secara keseluruhan.

Selain faktor cuaca, pasar komoditas ini juga dipengaruhi oleh dinamika pasokan dari Tiongkok. Terdapat kondisi ketat pada pasokan kokas metalurgi yang turut memberikan tekanan pada harga batu bara.

Berdasarkan catatan dari Refinitiv, harga batu bara acuan pada hari Selasa, 30 Juni 2026, berhasil ditutup pada level harga yang lebih tinggi. Harga tercatat berada di posisi US$ 129,45 per ton pada penutupan perdagangan hari itu.

Angka penutupan tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,57% dari posisi sebelumnya. Kenaikan ini menegaskan bahwa sentimen pasar terhadap komoditas energi fosil ini masih cukup positif.

Kenaikan 1,57% ini merupakan bagian dari momentum positif yang sedang berlangsung di pasar komoditas tersebut. Tren kenaikan ini telah berlangsung selama periode waktu tertentu.

Secara akumulatif, penguatan harga ini tercatat telah melonjak sebesar 2,7% dalam kurun waktu dua hari terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan permintaan yang substansial dalam waktu singkat.

Dilansir dari BisnisMarket.com, harga batu bara kembali menunjukkan tren penguatan signifikan menyusul peningkatan permintaan listrik global akibat gelombang panas ekstrem serta kondisi pasokan yang ketat di pasar kokas metalurgi Tiongkok.

"Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara acuan pada Selasa (30/6/2026) ditutup pada level US$ 129,45 per ton, mengalami kenaikan sebesar 1,57%," demikian tercatat dalam analisis harga komoditas tersebut.