POLAJABAR.COM - Perundingan damai yang sedianya akan dilakukan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Swiss harus mengalami pembatalan mendadak. Pembatalan ini merupakan dampak langsung dari meningkatnya eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pemicu utama pembatalan tersebut adalah keputusan Israel untuk melancarkan serangan militer yang lebih intensif terhadap wilayah Lebanon. Tindakan militer ini secara signifikan mengubah dinamika diplomasi yang sempat berjalan.
Konsekuensi dari memburuknya situasi geopolitik ini langsung terasa pada pasar komoditas energi global. Harga minyak mentah yang sebelumnya menunjukkan tren penurunan kini berbalik arah dan kembali mencatatkan kenaikan signifikan.
Pergerakan harga ini terpantau jelas pada data perdagangan hari Jumat (19/6/2026). Pada pukul 06.45 GMT atau pukul 13.45 WIB, harga minyak mentah Brent mengalami peningkatan.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent, yang selama ini dijadikan sebagai patokan utama untuk harga global, tercatat naik sebesar 51 sen. Kenaikan ini setara dengan persentase 0,64%, menempatkannya pada level US$ 80,36 per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan pasar Amerika Serikat juga menunjukkan tren kenaikan yang lebih tajam. Kenaikan ini dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian pasokan energi akibat konflik regional.
Harga minyak mentah WTI AS tercatat melonjak sebesar US$ 1,28, atau mengalami persentase kenaikan sebesar 1,7%. Kenaikan ini membawa harga WTI mencapai posisi US$ 77,88 per barel pada penutupan sesi perdagangan tersebut.
Dikutip dari Reuters, pergerakan harga ini terjadi pada perdagangan hari Jumat, 19 Juni 2026, yang menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan militer di wilayah tersebut.