POLAJABAR.COM - Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk tahun ajaran 2026 di wilayah Bandung mendadak tercoreng oleh isu kecurangan yang beredar luas melalui berbagai platform media sosial. Kejadian ini menimbulkan kehebohan di kalangan publik dan pihak penyelenggara seleksi.

Inti permasalahan yang mencuat adalah adanya dugaan kuat bahwa puluhan calon siswa yang berhasil lolos seleksi diduga menggunakan dokumen Kartu Keluarga (KK) yang tidak valid atau fiktif. Hal ini memicu penyelidikan lebih lanjut mengenai integritas proses penerimaan siswa baru.

Saat informasi ini mulai menyebar, publik dihebohkan dengan kabar bahwa terdapat sekitar 20 Kartu Keluarga yang alamat domisilinya terindikasi sangat mencurigakan. Kecurigaan ini bukan tanpa dasar, mengingat penelusuran awal menunjukkan alamat-alamat tersebut sangat tidak sesuai dengan identitas kependudukan yang seharusnya.

Penelusuran lebih mendalam yang dilakukan oleh pihak terkait, berdasarkan informasi yang beredar, menunjukkan adanya temuan yang mengejutkan mengenai lokasi administrasi kependudukan puluhan pendaftar tersebut. Lokasi yang tertera pada KK tersebut ternyata ditemukan berada di tempat-tempat komersial yang tidak lazim untuk domisili.

Temuan mencengangkan tersebut mengungkap bahwa alamat-alamat yang tertera dalam puluhan Kartu Keluarga itu secara spesifik mengarah ke lokasi seperti restoran hingga tempat hiburan malam berupa karaoke. Hal ini jelas menguatkan adanya indikasi pemalsuan data kependudukan demi kepentingan kelulusan SPMB.

Dugaan adanya unsur kecurigaan yang menyelimuti penerimaan puluhan siswa tersebut mulai menjadi fokus utama investigasi internal maupun eksternal. Proses penerimaan yang seharusnya berdasarkan kriteria akademik dan domisili yang sah kini dipertanyakan kredibilitasnya.

Perlu ditekankan bahwa isu ini pertama kali mencuat dan menjadi perbincangan hangat setelah tersebar luas melalui kabar yang bersumber dari media sosial. Media sosial berperan penting dalam mengungkap dugaan ketidakberesan dalam proses seleksi tahun ini.

Dilansir dari berbagai kabar yang beredar di jagat maya, "muncul dugaan alamat dalam 20 kartu keluarga (KK) yang tidak sesuai dengan identitasnya," sebagaimana disebutkan dalam berbagai utas diskusi daring. Informasi awal ini menjadi titik tolak untuk investigasi lebih lanjut.

Lebih lanjut, kabar yang beredar juga mengindikasikan bahwa "puluhan KK itu dari hasil penelusuran berlokasi di restoran hingga tempat karaoke," memperkuat dugaan kuat adanya praktik manipulasi data kependudukan untuk mengakali persyaratan seleksi.