POLAJABAR.COM - Ai Juariah (48), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, akhirnya berhasil kembali ke tanah air setelah terjebak dalam situasi sulit di Libya selama 14 bulan. Kepulangan perempuan paruh baya ini membawa kelegaan luar biasa bagi keluarga yang telah lama menantinya.
Penjemputan dan penyambutan kepulangan warga asal Kecamatan Ciranjang tersebut dilakukan secara langsung di Pendopo Cianjur pada Senin (13/7/2026). Suasana haru menyelimuti momen pertemuan kembali Ai dengan tanah kelahirannya.
Ai Juariah tiba di wilayah Cianjur sekitar pukul 09.00 WIB dengan kondisi yang terpantau sehat namun masih memerlukan pemulihan psikologis. Proses pemulangan ini berjalan lancar berkat kerja sama erat dari berbagai pihak terkait.
Selama perjalanan pulang, ia mendapatkan pengawalan ketat dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, serta aparat kepolisian. Sinergi ini memastikan keamanan sang pekerja migran hingga sampai di tujuan dengan selamat.
Kasus yang menimpa Ai sebelumnya sempat memicu simpati luas dari publik tanah air setelah sebuah rekaman video miliknya tersebar di jagat maya. Video tersebut memperlihatkan kondisi memprihatinkan yang dialami Ai selama berada di luar negeri.
Dalam rekaman video yang viral tersebut, wajah Ai tampak bersimbah darah akibat perlakuan sulit yang dialaminya di Libya. Ia secara terbuka menyampaikan pesan mendesak kepada para pemimpin pemerintahan untuk menyelamatkan dirinya.
"Saya memohon bantuan kepada Presiden Prabowo dan Gubernur Dedi Mulyadi," ujar Ai Juariah dalam rekaman video yang sempat viral tersebut.
Keberhasilan pemulangan ini menjadi bukti nyata dampak positif dari respons cepat pemerintah terhadap aduan warga negara di luar negeri. Penanganan kasus ini diharapkan menjadi evaluasi penting dalam pengawasan penyaluran tenaga kerja migran ke depannya.
Dikutip dari media lokal, langkah cepat pemulangan ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam melindungi warganya di luar negeri. Pendampingan psikologis kini tengah dipersiapkan untuk membantu pemulihan kondisi mental korban pascatrauma.
