POLAJABAR.COM - Wacana mengenai perubahan nama resmi Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi Provinsi Tatar Sunda kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan tokoh daerah. Usulan ini mendapatkan momentum baru seiring dengan adanya dorongan dari sejumlah elemen masyarakat yang peduli terhadap identitas budaya dan historis wilayah tersebut.

Tokoh yang memberikan dukungan signifikan terhadap rencana ini adalah budayawan sekaligus sesepuh dari Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, yang dikenal dengan sapaan akrab Abah Embep. Dukungan ini menunjukkan bahwa gagasan tersebut tidak hanya datang dari kalangan elit politik, tetapi juga dari tokoh adat dan budaya setempat.

Permasalahan utama yang mendasari usulan perubahan nama ini adalah ketidaksesuaian nomenklatur geografis yang ada saat ini. Abah Embep berpendapat bahwa penyebutan "Jawa Barat" sudah tidak lagi relevan secara administrasi dan posisi geografis pasca pemekaran wilayah.

Hal ini terutama berkaitan dengan pemekaran Provinsi Banten yang sebelumnya merupakan bagian integral dari Jawa Barat. Setelah pemekaran tersebut, posisi geografis Jawa Barat kini tidak lagi berada di ujung paling barat Pulau Jawa seperti dahulu kala.

"Jika kita melihat sejarah saat Provinsi Jawa Barat masih bersatu dengan Banten, sebutan 'barat' itu memang merujuk pada letak yang paling barat atau di ujung," ujar Asep Nurbagelar atau Abah Embep saat dihubungi detikJabar pada Sabtu (4/7/2026).

Abah Embep melanjutkan analisisnya dengan membandingkan kondisi historis dan kontemporer wilayah tersebut di Pulau Jawa. Ia menekankan bahwa pembagian pulau yang ada saat ini meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

"Tapi kenyataannya, Pulau Jawa itu terbagi menjadi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Posisi wilayah kita sekarang sudah bukan di paling barat lagi, melainkan lebih ke tengah," tambahnya lagi.

Dilansir dari detikJabar, pernyataan Abah Embep ini memperkuat argumen bahwa penggantian nama menjadi Tatar Sunda akan lebih mencerminkan identitas mayoritas penduduk dan akar budaya yang kental di wilayah tersebut. Wacana ini terus menjadi sorotan publik sebagai langkah apresiasi terhadap warisan leluhur.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.