POLAJABAR.COM - Infrastruktur strategis berupa jembatan gantung yang menghabiskan anggaran senilai Rp5 miliar kini menghadapi masalah serius di Jawa Barat. Jembatan yang seharusnya menjadi urat nadi transportasi antara Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya tersebut kini justru tidak dapat dilintasi.

Jembatan Sukamenak kini dalam kondisi terblokir total oleh tumpukan rumpun bambu yang dipasang secara sengaja. Aksi penutupan sepihak ini telah berlangsung selama enam hari terakhir, menimbulkan keresahan di kedua wilayah yang dilayaninya.

Aksi pemblokiran tersebut diinisiasi langsung oleh Kepala Desa Wanasigra, salah satu pihak yang bersengketa. Pemblokiran ini merupakan puncak dari kekecewaan mendalam warga yang merasa dirugikan terkait polemik kesepakatan pembebasan lahan pembangunan jembatan.

Ironisnya, sejak selesai dibangun pada tahun 2024, jembatan yang megah ini belum pernah dapat berfungsi secara optimal untuk kepentingan umum. Kondisi ini menunjukkan adanya kendala struktural yang menghambat pemanfaatan aset publik tersebut.

Permasalahan utama yang menyebabkan jembatan tidak dapat digunakan adalah ketiadaan akses jalan yang memadai di sisi Kota Tasikmalaya. Secara spesifik, tidak adanya akses jalan dari arah Desa Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, menjadi hambatan krusial.

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi di wilayah Kabupaten Ciamis, khususnya Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih. Di sisi Ciamis, akses jalan menuju bibir jembatan dilaporkan sudah terbangun mulus dan siap digunakan.

Adanya ketidakseimbangan pembangunan akses darat inilah yang memicu konflik berkepanjangan mengenai pembagian hak dan kompensasi lahan. Warga merasa kesepakatan awal mengenai pemanfaatan lahan tidak dilaksanakan secara adil oleh pihak terkait.

"Aksi penutupan sepihak ini merupakan puncak kekecewaan warga Ciamis atas polemik kesepakatan lahan yang dinilai tidak adil," demikian disampaikan oleh salah satu pihak terkait mengenai latar belakang pemblokiran tersebut.

Dikutip dari sumber berita terkait, disebutkan bahwa sejak rampung dibangun pada tahun 2024 silam, jembatan ini memang belum pernah berfungsi optimal karena kendala akses tersebut. Hal ini menunjukkan masalah ini sudah terjadi sejak awal peresmian.