POLAJABAR.COM - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi jebakan pendapatan menengah yang mengintai Indonesia. Peringatan ini disampaikan seiring dengan kondisi perekonomian nasional saat ini.

Luhut menekankan bahwa Indonesia berada dalam risiko serius terperosok dalam middle income trap. Situasi ini bisa terjadi apabila target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan gagal dipertahankan di angka minimal 5 hingga 6 persen.

Target pertumbuhan tersebut, menurut pandangan beliau, harus mampu dipertahankan setidaknya hingga tahun 2028 mendatang. Kegagalan mencapai target ini akan menghambat kemajuan ekonomi jangka panjang Indonesia.

Middle income trap adalah sebuah kondisi ekonomi di mana negara berhasil mencapai status pendapatan menengah. Namun, negara tersebut kemudian tertahan dan tidak mampu lagi meningkatkan statusnya menjadi negara berpendapatan tinggi.

Fenomena jebakan ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor fundamental. Salah satunya adalah melambatnya laju pertumbuhan ekonomi akibat hilangnya daya saing biaya produksi.

Faktor lain yang menyebabkan stagnasi adalah minimnya inovasi yang terjadi dalam sektor produksi dan industri nasional. Hal ini menghambat lompatan produktivitas yang dibutuhkan untuk naik kelas.

Lebih lanjut, Luhut mengaitkan ancaman jebakan pendapatan menengah ini dengan periode krusial bonus demografi Indonesia. Beliau memperkirakan bahwa momentum demografi yang menguntungkan ini akan segera berakhir.

"Ancaman tersebut berkaitan erat dengan berakhirnya bonus demografi Indonesia dalam dua dekade mendatang," ujar Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut bahkan memberikan proyeksi spesifik mengenai kapan masa emas demografi Indonesia akan selesai. "Bonus demografi diperkirakan akan habis pada tahun 2042," kata beliau.