POLAJABAR.COM - Ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun 2026 mulai membayangi wilayah Kota Tasikmalaya. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap sektor ketahanan pangan daerah.

Penurunan drastis pasokan air permukaan menjadi isu utama yang perlu segera diatasi. Hal ini menuntut adanya respons cepat dari semua pihak terkait di Tasikmalaya.

Salah satu respons utama yang didorong adalah adaptasi pola tanam oleh para petani. Selain itu, perbaikan infrastruktur irigasi yang mengalami kebocoran juga menjadi prioritas mendesak.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya telah mengambil langkah proaktif. Instansi ini bergerak cepat untuk menghimbau seluruh petani agar segera melakukan penyesuaian.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Anisah Kardiayati, menekankan pentingnya sinergi dalam menghadapi tantangan ini. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan petani dianggap sebagai kunci keberhasilan mitigasi kekeringan.

"Menghadapi musim kemarau, kita harus bersama-sama dengan petani bisa beradaptasi dan mencari solusi untuk mengantisipasi dampak kekeringan," ujar Anisah Kardiayati, Rabu (8/7/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa adaptasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi memerlukan partisipasi aktif dari sektor pertanian. Solusi harus dicari bersama untuk menjaga stabilitas pasokan pangan.

DKP3 berharap dengan perubahan pola tanam dan perbaikan saluran air, dampak kemarau panjang tahun 2026 dapat diminimalisir secara efektif. Langkah ini merupakan upaya preventif krusial.

Dikutip dari sumber terkait, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa sektor pertanian tetap berjalan meskipun menghadapi kendala sumber daya air yang berkurang.