POLAJABAR.COM - Memasuki periode musim kemarau, komunitas petani di wilayah Kota Tasikmalaya kini tengah mengambil langkah antisipatif. Mereka bersiap menghadapi potensi ancaman krisis air yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas pertanian mereka dalam beberapa waktu ke depan.

Ancaman kekeringan ini menjadi perhatian utama mengingat sebentar lagi akan memasuki masa panen padi. Para petani mulai menyusun strategi agar gagal panen akibat kekurangan sumber daya air dapat diminimalisir.

Situasi terkini menunjukkan bahwa meskipun belum terjadi kekeringan parah, debit air mulai menunjukkan tren penurunan. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa musim kering akan memberikan tantangan signifikan bagi sektor pertanian lokal.

Secara spesifik, salah satu petani yang terdampak mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kondisi mendatang. Ia berharap curah hujan masih bisa membantu sebelum masa panen tiba dan situasi semakin memburuk.

Wahid (55), seorang petani yang berdomisili di kawasan Cimerak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, menyampaikan pandangannya pada hari Rabu, 1 Juli 2026. Ia menyoroti pentingnya pemantauan debit air secara berkelanjutan.

"Sebulan lagi panen padi, mudah-mudahan nggak sampai kekeringan. Sekarang masih aman walau pun mulai surut," kata Wahid (55), salah seorang petani di wilayah Cimerak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Rabu (1/7/2026).

Kondisi ini menuntut adanya koordinasi antara petani dan pihak pengelola irigasi. Kerusakan pada sistem irigasi yang ada dapat memperparah dampak kekeringan yang disebabkan oleh faktor alam.

Para petani kini berada dalam posisi siaga penuh, memantau perkembangan cuaca dan kondisi saluran air pertanian mereka. Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera meninjau infrastruktur irigasi guna mengantisipasi potensi kerusakan lebih lanjut.

Dikutip dari sumber berita terkait, kesiapan petani ini merupakan respons alami terhadap pola iklim tahunan yang cenderung kering pada periode ini.