POLA JABAR - Kardio latihan yang meningkatkan detak jantung telah lama dianggap sebagai metode utama untuk menghilangkan lemak tubuh, dan sains modern terus memperkuat anggapan tersebut dengan detail yang lebih spesifik. Secara ilmiah, proses pembakaran lemak selama kardio terjadi melalui serangkaian reaksi kompleks di tingkat sel.
Tubuh kita menggunakan energi dari berbagai sumber, termasuk karbohidrat dan lemak, yang diubah menjadi Adenosin Trifosfat (ATP), mata uang energi seluler. Ketika kita melakukan aktivitas kardio dengan intensitas rendah hingga sedang (misalnya, berjalan cepat atau bersepeda santai), tubuh cenderung mengandalkan asam lemak bebas sebagai bahan bakar utama.
Proses ini dikenal sebagai oksidasi lemak. Penemuan terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya durasi, tetapi juga jenis dan intensitas kardio yang sangat menentukan proporsi lemak yang dibakar.
Untuk memaksimalkan pembakaran lemak, tujuannya adalah menjaga detak jantung pada "Zona Bakar Lemak" tertentu biasanya sekitar 60-70% dari detak jantung maksimum di mana tubuh paling efisien menggunakan lemak tersimpan sebagai sumber energi, bukan karbohidrat yang cepat habis.
Namun, pembakaran lemak tidak berhenti saat Anda selesai berolahraga, dan ini adalah salah satu update ilmiah paling menarik. Latihan kardio intensitas tinggi, seperti HIIT (High-Intensity Interval Training), memicu fenomena yang disebut EPOC (Excess Post-exercise Oxygen Consumption).
Secara sederhana, EPOC adalah peningkatan laju metabolisme pasca-latihan yang diperlukan tubuh untuk mengembalikan kondisi internalnya ke keadaan istirahat (homeostasis), memperbaiki jaringan, dan mengisi kembali cadangan energi. Proses pemulihan ini membutuhkan oksigen ekstra, dan selama fase EPOC, tubuh terus membakar kalori sebagian besar dari cadangan lemak bahkan saat Anda sudah beristirahat total.
Meskipun latihan intensitas sedang mungkin membakar persentase lemak yang lebih tinggi selama sesi berlangsung, HIIT menghasilkan efek "pembakaran setelah" yang lebih kuat dan tahan lama, membuat total kalori dan lemak yang terbakar dalam 24 jam menjadi lebih signifikan. Oleh karena itu, strategi paling efektif adalah menggabungkan keduanya: kardio stabil untuk efisiensi saat sesi, dan HIIT untuk dorongan metabolik pasca-latihan.
Memahami peran mitokondria adalah kunci untuk benar-benar mengoptimalkan kemampuan tubuh dalam membakar lemak. Mitokondria sering disebut sebagai "pabrik energi" sel, dan mereka adalah tempat di mana lemak benar-benar dioksidasi (dibakar).
Latihan kardio yang konsisten dan teratur, terlepas dari intensitasnya, memiliki efek adaptif pada tubuh: ia secara bertahap meningkatkan jumlah dan ukuran mitokondria dalam sel otot. Semakin banyak mitokondria yang Anda miliki, semakin besar kapasitas tubuh Anda untuk memproses dan membakar lemak.