POLA JABAR – Kota Bandung kembali tenggelam dalam lautan warna biru. Keberhasilan Persib Bandung merengkuh takhta tertinggi sepak bola nasional disambut dengan pesta pora yang luar biasa oleh para pendukung setianya. Antusiasme jutaan bobotoh dalam perayaan juara Persib kembali mengubah wajah Kota Bandung. Arak-arakan kemenangan yang dimulai dari kawasan Gedung Sate menuju Pendopo Kota Bandung berlangsung meriah, meski diwarnai kepadatan luar biasa di sejumlah ruas jalan.
Pawai yang digelar pada akhir pekan tersebut melumpuhkan beberapa urat nadi transportasi kota. Kendaraan rombongan pemain yang membawa trofi kebanggaan terpaksa merayap sangat lambat di antara kerumunan massa yang menyemut di sepanjang trotoar hingga memakan badan jalan.
Tingginya kepadatan arus lalu lintas membuat jadwal acara yang telah disusun rapi oleh panitia dan Pemerintah Kota Bandung mengalami keterlambatan yang cukup signifikan. Pihak berwenang tidak menyangka bahwa jumlah massa yang turun ke jalan akan membeludak hingga berkali-kali lipat dari perkiraan awal.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, tingginya animo masyarakat membuat perjalanan rombongan berjalan jauh lebih lama dari target awal.
“Berjalan sih bisa, dikatakan lancar tidak juga kalau padat sangat. Jadi memang sangat tersendat. Target kita harusnya sampai pukul 11.00 WIB, sampai pukul 13.00 WIB belum nyampe,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026.
Menurut Farhan, perayaan kali ini terasa jauh lebih emosional dan masif jika dibandingkan dengan momen-momen juara sebelumnya. Perubahan rute konvoi ternyata menjadi salah satu faktor yang memecah konsentrasi massa, namun justru membuat seluruh sudut kota ikut merasakan atmosfer pesta.
Menurutnya, euforia kemenangan Persib kali ini memiliki nuansa berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pusat keramaian terfokus di kawasan Gasibu, kini lautan Bobotoh memenuhi hampir seluruh jalur konvoi dari Gedung Sate hingga Pendopo.
“Tahun lalu dari Balai Kota ke Gedung Sate, sekarang dari Gedung Sate ke Pendopo. Karena hari ini sejarah,” ujarnya.
Farhan menilai kepadatan terjadi karena masyarakat tersebar di sepanjang jalan konvoi. Kondisi itu membuat arus pergerakan rombongan melambat. Pergerakan manusia yang dinamis di sepanjang jalur protokol membuat barikade pengamanan harus bekerja ekstra keras untuk membuka jalan bagi bus yang mengangkut para penggawa Maung Bandung.