POLA JABAR - Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang mulai merambah ke sektor meja makan kita.
Salah satu komoditas yang kini mendapat sorotan tajam dalam laporan terbaru Nature Climate Change adalah asparagus.
Tanaman yang dikenal sebagai sayuran premium ini kini menghadapi ancaman serius, mulai dari penurunan produktivitas hingga degradasi kualitas nutrisi akibat fluktuasi suhu global yang ekstrem.
Anomali Cuaca dan Siklus Pertumbuhan
Asparagus merupakan tanaman tahunan yang sangat bergantung pada siklus musim yang stabil. Untuk menghasilkan tunas yang renyah dan berkualitas tinggi, tanaman ini memerlukan periode dormansi musim dingin yang cukup.
Namun, laporan penelitian menunjukkan bahwa musim dingin yang lebih hangat menyebabkan gangguan pada fase istirahat tanaman tersebut.
Ketika suhu tanah tidak mencapai titik dingin yang dibutuhkan, cadangan energi dalam akar (rhizoma) tidak terakumulasi dengan maksimal.
Dampaknya, saat musim semi tiba, tunas yang dihasilkan cenderung lebih kecil, lemah, dan memiliki tekstur yang berserat. Ketidakteraturan ini tidak hanya merugikan petani dari sisi volume panen, tetapi juga menurunkan nilai jual komoditas di pasar internasional.
Tekanan Suhu Panas pada Kualitas Nutrisi