POLA JABAR - Banyak yang mengira perjuangan Kartini terhenti setelah ia dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Faktanya, pernikahan tersebut justru membuka horison pemikiran baru bagi Kartini karena dukungan penuh dari sang suami.
Berbeda dengan kekhawatiran banyak orang, suami Kartini sangat mendukung cita-citanya. Kartini bahkan diberi izin untuk mendirikan sekolah wanita di kompleks kantor kabupaten. Dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkapkan bahwa ia belajar jauh lebih banyak setelah menikah karena terlibat dalam diskusi mengenai pekerjaan dan usaha suaminya.
Sayangnya, perjuangan fisik Kartini di dunia ini tergolong singkat. Ia meninggal dunia di usia 25 tahun, hanya empat hari setelah melahirkan putra tunggalnya, Soesalit Djojoadiningrat. Namun, api perjuangannya tidak padam dan justru semakin membesar setelah wafatnya.
Meskipun usianya singkat, warisan pemikiran Kartini telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi kemajuan perempuan Indonesia di masa depan.***