POLAJABAR.COM - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat menggelar kegiatan edukasi kesehatan mental dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2026 di SMAN 5 Bandung pada Kamis (23/7/2026). Sesi interaktif tersebut menghadirkan psikolog Prita Pratiwi untuk memberikan pemahaman mengenai bahaya serta dampak dari toxic relationship yang marak terjadi di usia remaja.

Fenomena hubungan asmara maupun pertemanan yang tidak sehat ini dapat memberikan dampak destruktif bagi kehidupan para siswa SMA. Remaja yang terjebak dalam kondisi ini rentan mengalami penurunan prestasi belajar di sekolah, kehilangan rasa percaya diri, hingga menarik diri dari lingkungan keluarga dan kawan dekat. Dikutip dari berita setempat, masih banyak remaja yang belum menyadari bahwa mereka sedang berada dalam lingkaran hubungan yang manipulatif.

Dalam pemaparannya, Prita menjelaskan empat indikasi hubungan tidak sehat yang sering dialami remaja, mulai dari perilaku posesif berlebihan hingga tindakan mengontrol privasi ponsel berkedok kasih sayang. Selain itu, dinamika pertemanan yang kompetitif dan beracun serta siklus kekerasan fisik maupun psikologis juga menjadi ancaman nyata yang patut diwaspadai sejak dini.

"Satu hal utama yang menyulitkan seseorang untuk lepas dari hubungan tidak sehat adalah pola pikir bahwa dirinya sanggup mengubah perilaku buruk pasangannya," kata psikolog Prita Pratiwi.

"Pemikiran yang terlalu memaksakan diri ini tidak hanya dialami para remaja, tetapi juga banyak dialami orang dewasa hingga terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia selama bertahun-tahun," ungkap Prita.

"Ketika mulai mengenal seseorang, lihatlah kinerjanya secara realistis apa adanya dan jangan pernah berpikir bahwa kamu memiliki kemampuan untuk mengubah sifat dasarnya," tutur Prita.

"Setiap remaja harus mengenali kelebihan diri serta menyadari adanya batas privasi pribadi yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun atas alasan cinta," tegas Prita.

"Hindari memberikan kritik atau menghakimi dengan kata 'harusnya' saat membantu teman yang terjebak hubungan toksik, melainkan ajak mereka berpikir logis untuk menemukan akar masalahnya," jelas Prita.

"Ingatlah selalu bahwa diri kamu sangat berharga, sehingga jangan sampai kamu begitu mudah memaafkan orang lain tetapi justru berlaku sangat keras pada diri sendiri," pungkas Prita.