POLA JABAR - Jauh sebelum teknologi rekayasa genetika dan pemetaan DNA ditemukan, seorang biarawan asal Austria bernama Gregor Mendel telah meletakkan batu pertama bagi ilmu keturunan. Di sebuah kebun biara yang tenang di Brno, Mendel menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengamati tanaman kacang polong (Pisum sativum). Observasi yang teliti ini bukan sekadar hobi berkebun biasa, melainkan sebuah eksperimen sains revolusioner yang pada akhirnya menjawab pertanyaan besar umat manusia: bagaimana sifat fisik diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pilihan Mendel untuk menggunakan kacang polong bukanlah tanpa alasan. Tanaman ini mudah tumbuh, memiliki siklus hidup cepat, dan yang terpenting, memiliki variasi sifat yang sangat kontras—seperti bunga warna ungu versus putih, atau biji yang bulat versus keriput.
Logika Matematika dalam Biologi
Mendel membawa pendekatan unik ke dalam biologi yang saat itu jarang dilakukan, yaitu penggunaan statistika dan matematika. Ia tidak hanya melihat hasil persilangan secara kualitatif, tetapi menghitung setiap individu tanaman yang dihasilkan.
Melalui persilangan ribuan tanaman, ia menemukan pola angka yang konsisten. Mendel menyadari bahwa sifat-sifat tersebut tidak "bercampur" seperti tinta yang dituangkan ke dalam air, melainkan diwariskan sebagai unit-unit terpisah yang kini kita kenal sebagai gen.
Berdasarkan tinjauan sejarah dari laman Britannica, Gregor Mendel berhasil merumuskan hukum dasar hereditas melalui eksperimennya yang berlangsung antara tahun 1856 hingga 1863.
Meskipun pada masanya komunitas ilmiah belum mampu menangkap signifikansi dari temuan tersebut, publikasi Mendel mengenai prinsip dominansi dan segregasi sifat menjadi landasan utama yang menjelaskan bahwa setiap organisme membawa sepasang faktor untuk setiap sifat, yang kemudian dipisahkan secara acak selama pembentukan sel reproduksi.
Hukum Dominansi dan Segregasi
Salah satu penemuan terbesar Mendel adalah konsep dominansi. Ia menemukan bahwa ketika ia menyilangkan kacang polong berbiji bulat dengan yang keriput, seluruh keturunan pertamanya ternyata berbiji bulat.