POLA JABAR - Dunia berduka saat R.A. Kartini wafat di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun, hanya empat hari setelah melahirkan putranya, Soesalit. Namun, kepergiannya justru menjadi api penyulut bagi gerakan perempuan di Indonesia berkat jasa sahabat-sahabatnya.
J.H. Abendanon, yang saat itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, mengumpulkan surat-surat Kartini dan membukukannya dengan judul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga amunisi bagi pergerakan wanita Indonesia untuk menuntut hak pendidikan yang sama.
Perjuangan Kartini juga diteruskan melalui pendirian "Sekolah Kartini" oleh keluarga Van Deventer, tokoh Politik Etis. Sekolah ini menjadi perpanjangan tangan dari cita-cita Kartini yang ingin melihat perempuan Indonesia terampil dalam membaca, menulis, dan memiliki kemandirian hidup.
Meskipun usianya pendek, warisan Kartini lewat buku dan sekolah-sekolahnya telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia selamanya.***