POLAJABAR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai perubahan pola cuaca signifikan di wilayah Jawa Barat. Transisi menuju musim kemarau tahun 2026 kini telah terasa di hampir separuh area provinsi tersebut.

Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya intensitas curah hujan secara drastis dibandingkan periode sebelumnya. BMKG mencatat bahwa kondisi kekeringan yang diprediksi mungkin akan lebih intens dari kondisi normal pada umumnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga periode dasarian kedua bulan Juni ini, sejumlah besar Zona Musim (ZOM) telah secara resmi berganti status. Perubahan ini menandakan bahwa musim penghujan telah berakhir di area-area yang bersangkutan.

Plt Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Edi Wibowo, memberikan rincian spesifik mengenai sejauh mana dampak peralihan musim ini terasa. Informasi ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk antisipasi kekeringan.

"Sebanyak 20 dari 41 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 49 persen wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau," ujar Edi Wibowo, menggarisbawahi bahwa hampir separuh Jabar sudah berada di fase kering.

Edi Wibowo juga menjelaskan bahwa meskipun mayoritas telah memasuki kemarau, masih ada wilayah yang bertahan dalam fase hujan. Sebanyak 20 ZOM lainnya dilaporkan masih berada dalam kondisi musim hujan saat ini.

Lebih lanjut, Plt Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat menambahkan bahwa terdapat satu Zona Musim yang memiliki karakteristik unik. "Satu ZOM merupakan wilayah dengan pola satu musim," kata Edi Wibowo, merujuk pada area yang tidak mengikuti pola dua musim konvensional.

Informasi ini penting untuk mitigasi risiko kekeringan hidrologis dan pertanian di Jawa Barat. Masyarakat diimbau untuk mulai menerapkan langkah-langkah konservasi air secara bijaksana.

Dilansir dari sumber resmi BMKG, pemantauan iklim akan terus dilakukan secara intensif untuk memberikan pembaruan jika terjadi anomali cuaca selama periode kemarau ini.