POLA JABAR – Pergerakan harga logam mulia kembali menjadi perhatian menjelang pergantian tahun.
Setelah mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025, perak mulai dilirik sebagai alternatif investasi, terutama oleh investor yang ingin diversifikasi aset di luar emas.
Sejumlah analis memproyeksikan tren harga perak masih akan bergerak menguat secara bertahap hingga paruh pertama tahun 2026.
Namun, di balik prospek tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perak masih layak dibeli sebagai instrumen investasi di tahun depan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bergantung pada tujuan pembelian. Jika perak dimaksudkan sebagai produk investasi utama, posisinya dinilai masih belum sekuat logam mulia lain seperti emas yang memiliki tingkat likuiditas dan stabilitas harga lebih baik.
Karena itu, perak lebih cocok diposisikan sebagai instrumen pelengkap dalam portofolio investasi, bukan sebagai aset utama.
Potensi kenaikan harga tetap ada, namun risikonya juga perlu diperhitungkan dengan matang.
Dalam praktiknya, investasi perak juga perlu memperhatikan bentuk produk yang dibeli. Untuk tujuan investasi, perak sebaiknya dibeli dalam bentuk fisik murni seperti batangan atau koin, bukan dalam bentuk perhiasan.
Perhiasan perak umumnya menggunakan kandungan 92,5 persen perak murni dan 7,5 persen logam campuran, yang dikenal sebagai perak 925.