POLA JABAR – Memasuki awal April 2026, harga telur ayam ras di sejumlah pasar rakyat mulai menunjukkan tren penurunan atau depresiasi pasca Idulfitri 1447 Hijriah.

Data dari Satgas Saber Pangan mencatat bahwa harga di sebagian besar wilayah Indonesia kini berada dalam koridor kewajaran sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) konsumen maksimal Rp30.000 per kg.

Di Yogyakarta, harga telur di Pasar Kranggan dan Pasar Beringharjo terpantau turun menjadi Rp28.000 per kg dari sebelumnya Rp30.000 per kg. Penurunan paling signifikan ditemukan di Sumatera Utara, tepatnya di Pasar Gambir, Tebing Tinggi, dengan harga Rp27.200 per kg. Sementara di Banda Aceh, harga dibanderol sekitar Rp28.500 per kg.

Meski demikian, fluktuasi harga masih terjadi di wilayah timur Indonesia akibat faktor biaya distribusi. Di Pontianak, Kalimantan Barat, harga tercatat di kisaran Rp33.000 per kg, sedangkan di Raja Ampat, Papua Barat Daya, berada di angka Rp36.000 per kg.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa konsumsi telur masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2025, rata-rata konsumsi per kapita dalam seminggu mencapai 2,362 kg, naik signifikan dibandingkan sepuluh tahun lalu. Pemerintah berkomitmen terus menjaga kelancaran distribusi agar disparitas harga antarwilayah dapat ditekan seminimal mungkin.***