POLA JABAR – Motor bebek atau underbone adalah jenis kendaraan roda dua yang sangat legendaris di Indonesia. Sebelum tren motor matic merajalela, motor bebek adalah penguasa jalanan. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa motor dengan transmisi manual tanpa kopling tangan ini disebut dengan nama unggas?

Ternyata, penyebutan "bebek" bukan muncul tanpa alasan. Ada sejarah dan evolusi desain yang melatarbelakanginya. Berikut adalah asal-usulnya:

1. Evolusi Desain dari Jerman Istilah ini berawal pada tahun 1950-an. Saat itu, pabrikan otomotif asal Jerman, DKW, mengeluarkan model bernama DKW Hummel. Motor ini memiliki desain perlindungan kaki (fairing) di bagian depan yang melebar ke bawah. Jika dilihat dari samping, bentuk fairing yang melengkung dan melebar ini dianggap menyerupai paruh dan leher bebek.

2. Populer karena Honda Super Cub Istilah ini semakin melekat di telinga masyarakat Indonesia saat pabrikan Jepang, terutama Honda, memasukkan seri C50, C70, hingga C90 (yang dikenal sebagai Honda Pitung) ke tanah air. Desain bagian depannya yang memiliki sayap pelindung (tepong) plastik berwarna putih semakin memperkuat visual menyerupai sayap bebek yang sedang mengembang.

3. Istilah Teknis Underbone Secara internasional, motor jenis ini disebut sebagai underbone. Nama ini merujuk pada konstruksi rangka utama tunggal yang melengkung ke bawah. Karena rangkanya tidak "memeluk" mesin dari atas seperti motor sport, posisi mesin berada di bawah rangka, mirip dengan struktur tulang dada unggas.

4. Mudahnya Penyebutan bagi Masyarakat Masyarakat Indonesia dikenal suka memberikan julukan yang mudah diingat berdasarkan visual benda tersebut. Karena bentuknya yang ramping dengan bagian depan yang menyerupai paruh dan sayap, julukan "Motor Bebek" jauh lebih mudah diucapkan dan diingat dibandingkan istilah teknis seperti moped atau underbone.

5. Karakter yang Lincah Selain dari sisi bentuk, karakteristik motor ini yang sangat lincah untuk bermanuver di jalanan sempit juga dianggap mirip dengan gerakan bebek yang lincah saat berada di air. Motor ini menjadi solusi mobilitas yang praktis, irit, dan tahan banting bagi keluarga di Indonesia selama puluhan tahun.

Meskipun kini populasi motor bebek mulai tergeser oleh kepraktisan motor matic, namanya tetap abadi dalam sejarah otomotif Indonesia sebagai kendaraan yang telah berjasa menggerakkan ekonomi masyarakat.***