POLA JABAR – Jika diperhatikan, mayoritas motor matic berkapasitas mesin kecil hingga menengah yang beredar di Indonesia hanya dibekali dengan satu peredam kejut atau shockbreaker di sisi kiri. Berbeda dengan motor bebek atau sport yang biasanya menggunakan sepasang shockbreaker (ganda).
Banyak yang menduga hal ini dilakukan hanya untuk menekan biaya produksi. Namun secara teknis, ada alasan kuat mengapa desain satu shockbreaker dipilih untuk motor matic. Berikut penjelasannya:
1. Konstruksi Mesin dan Swing Arm Motor matic menggunakan sistem penggerak yang menyatu dengan mesin dan transmisi, yang dikenal sebagai Continuously Variable Transmission (CVT). Blok CVT yang besar di sisi kiri bertindak sebagai lengan ayun (swing arm) yang sangat kokoh. Karena konstruksinya sudah kaku dan kuat, satu shockbreaker di sisi kiri sudah cukup untuk menopang beban motor.
2. Efisiensi Ruang Bagasi Salah satu nilai jual utama motor matic adalah bagasi yang luas di bawah jok. Dengan hanya menggunakan satu shockbreaker, insinyur pabrikan memiliki ruang lebih untuk memperbesar kapasitas bagasi dan tangki bahan bakar. Jika menggunakan dua shockbreaker, ruang di sisi kanan dan kiri harus dikorbankan untuk dudukan baut dan per.
3. Distribusi Beban yang Terpusat Pada motor matic, titik berat mesin berada lebih rendah dan ke belakang. Desain satu shockbreaker yang diletakkan secara vertikal atau sedikit miring sudah diperhitungkan matang untuk meredam getaran dan beban secara optimal tanpa membuat motor terasa limbung.
4. Perawatan Lebih Ringkas Dari sisi pemilik kendaraan, penggunaan satu shockbreaker tentu lebih ekonomis. Saat komponen ini mulai lemah atau bocor, pemilik hanya perlu membeli satu buah komponen pengganti, sehingga biaya perawatan rutin menjadi lebih ringan.
5. Bobot Kendaraan Lebih Ringan Satu komponen yang hilang berarti pengurangan bobot total kendaraan. Hal ini berdampak positif pada efisiensi bahan bakar dan kelincahan motor saat digunakan untuk bermanuver di jalanan kota yang padat.***