POLAJABAR.COM - Pekan sebelumnya, kita telah menerima prediksi kuat dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai kemungkinan munculnya fenomena El Nino. Prediksi tersebut memberikan indikasi peluang kejadian yang sangat tinggi, mencapai angka 80 persen pada akhir tahun 2026.
Kini, status prediksi tersebut telah berubah menjadi konfirmasi resmi yang didukung oleh lembaga meteorologi internasional terkemuka. Perkembangan ini menandai perubahan signifikan dalam pola cuaca global yang patut mendapat perhatian serius dari berbagai negara.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) menjadi salah satu otoritas pertama yang secara resmi mendeklarasikan bahwa kondisi El Nino saat ini tengah berlangsung dan aktif memengaruhi wilayah tertentu. Deklarasi ini mengukuhkan kekhawatiran yang sempat beredar sebelumnya.
Dilansir dari detikINET yang mengutip Futurism pada Minggu (14/6/2026), JMA telah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kondisi atmosfer saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemantauan intensif telah membuahkan hasil berupa penetapan status El Nino.
Hanya sehari setelah pengumuman dari JMA, lembaga cuaca Amerika Serikat, US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), turut memberikan konfirmasi serupa. NOAA menyatakan bahwa El Nino secara definitif telah terbentuk di area Pasifik tropis.
NOAA menegaskan bahwa data observasi menunjukkan adanya pemanasan permukaan laut yang signifikan di Pasifik ekuator. "El Nino telah resmi terbentuk di wilayah Pasifik tropis," demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh NOAA.
Kabar mengenai terbentuknya El Nino ini mengikuti prediksi awal yang sempat disampaikan oleh WMO minggu lalu, di mana tingkat probabilitasnya sangat tinggi. Otoritas cuaca dunia kini sepakat mengenai perkembangan iklim yang sedang terjadi.
Pakar cuaca sedunia telah lama mengingatkan bahwa jika El Nino benar-benar terbentuk, dampak ekstrem terhadap pola curah hujan dan suhu global tidak dapat dihindari. Indonesia, sebagai negara tropis, perlu bersiap menghadapi potensi perubahan iklim yang dibawa oleh fenomena ini.
"Peluang terjadinya El Nino mencapai 80 persen di akhir tahun 2026 ini," ujar salah satu pakar iklim saat menyampaikan prediksi awal dari WMO pekan lalu. Pernyataan ini kini menjadi sorotan mengingat konfirmasi yang sudah datang.