POLAJABAR.COM - Di kawasan industri Karawang, Jawa Barat, pembangunan proyek pabrik baterai listrik raksasa tengah berlangsung pesat, namun di balik kemegahan tersebut tersimpan realitas kontras yang signifikan. Situasi ini menyoroti perbedaan perlakuan antara pekerja kasar lokal dan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur vital tersebut.

Fokus utama permasalahan ini terletak pada kondisi kerja dan fasilitas yang diterima oleh pekerja lokal yang bekerja sebagai kuli bangunan atau helper di lokasi proyek. Kontras ini sering kali digambarkan bak bumi dan langit ketika dibandingkan dengan apa yang diterima oleh rekan kerja mereka yang berasal dari Tiongkok.

Salah satu pekerja lokal yang menjadi saksi mata kondisi ini adalah inisial A (35), yang telah menghabiskan waktu sekitar tiga bulan bekerja sebagai helper di proyek konstruksi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa fasilitas dasar yang seharusnya didapatkan pekerja konstruksi sangat minim, bahkan sering kali tidak tersedia.

Realisasi pahit yang dihadapi pekerja lokal termasuk ketiadaan tunjangan resmi dan jaminan kesehatan yang memadai dari perusahaan yang mempekerjakan mereka. Bahkan, perlengkapan keselamatan kerja standar pun harus mereka sediakan sendiri dengan biaya pribadi.

A mengungkapkan keluh kesahnya mengenai minimnya fasilitas yang diberikan kepada pekerja domestik di lokasi proyek pembangunan tersebut. "Kalau kami pekerja lokal, gak ada fasilitas, tunjangan BPJS dan hal lain itu gak ada, bahkan rompi proyek saja saya harus beli sendiri, kalau bekerja di sana kita warga lokal tetap dibayar harian, Rp120 sehari," ujar A saat berbagi keluh kesah kepada detikJabar, Rabu (1/7/2026).

Kondisi upah harian yang diterima oleh pekerja lokal juga menjadi sorotan utama dalam permasalahan ini, mengingat besaran upah tersebut dinilai sangat minim untuk pekerjaan fisik berat di tengah proyek konstruksi berskala besar. Pembayaran harian ini menambah panjang daftar ketidakadilan fasilitas yang mereka terima.

Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai implementasi standar ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia, terutama dalam proyek-proyek investasi besar yang melibatkan tenaga kerja asing. Perbedaan fasilitas ini menimbulkan keresahan di kalangan pekerja lokal yang merasa hak-hak mereka tidak terpenuhi.

Dilansir dari detikJabar, situasi ini terjadi di lokasi proyek strategis yang sedang berjalan di Karawang, menyoroti perlunya pengawasan ketat dari otoritas terkait mengenai kesejahteraan pekerja di sektor konstruksi. Perbedaan perlakuan ini perlu segera ditelaah untuk memastikan keadilan sosial di lingkungan kerja.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.