POLA JABAR – Banyak pemilik kendaraan beranggapan bahwa menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih tinggi—seperti Pertamax Turbo atau sejenisnya—secara otomatis akan membuat performa mesin lebih bertenaga dan irit. Namun, fakta teknis menunjukkan bahwa penggunaan oktan yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin justru bisa berdampak buruk.

Nilai oktan sebenarnya adalah ukuran seberapa kuat bahan bakar menahan tekanan sebelum terbakar sendiri. Berikut adalah beberapa efek yang terjadi jika Anda memaksakan bensin ber-oktan tinggi pada mesin dengan kompresi rendah:

1. Pembakaran Tidak Sempurna Bahan bakar dengan oktan tinggi membutuhkan suhu dan tekanan (kompresi) yang tinggi agar bisa terbakar sempurna. Jika mesin kendaraan Anda dirancang untuk oktan 90 namun diisi dengan oktan 98, bensin tersebut akan sulit terbakar habis. Sisanya akan meninggalkan kerak karbon pada ruang bakar dan busi.

2. Penurunan Performa dan Boros BBM Karena sulit terbakar, energi yang dihasilkan pun tidak maksimal. Bukannya lebih irit, kendaraan justru terasa lebih berat tarikannya dan Anda cenderung memutar gas lebih dalam. Hal inilah yang membuat konsumsi bahan bakar malah menjadi lebih boros dibandingkan menggunakan BBM dengan oktan yang sesuai.

3. Gejala Fuel Dilution Bensin yang tidak terbakar sempurna bisa menyelinap melalui celah ring piston dan masuk ke dalam ruang engkol. Fenomena ini disebut fuel dilution, di mana bensin bercampur dengan oli mesin. Akibatnya, kekentalan oli berkurang dan fungsi pelumasan terganggu, yang berisiko merusak komponen internal mesin dalam jangka panjang.

4. Panas Mesin Berlebih Pembakaran yang tidak sinkron dengan waktu pengapian (ignition timing) dapat menyebabkan suhu mesin meningkat drastis. Jika dibiarkan, komponen seperti katup (valve) dan piston bisa mengalami kerusakan akibat panas yang tidak wajar.***