POLA JABAR - Masyarakat bertanya-tanya mengapa harga energi nonsubsidi seperti gas LPG dan bensin oktan tinggi melonjak drastis di pertengahan April 2026. Ternyata, penyebab utamanya adalah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasokan energi dunia secara global.

Pemicu utamanya adalah serangan terhadap fasilitas energi strategis di Qatar yang menyebabkan kerusakan pada infrastruktur produksi. Akibatnya, pasokan LPG dunia menyusut dan sejumlah operator mengumumkan status force majeure atau kondisi darurat.

Selain itu, terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz—yang merupakan jalur utama 20 persen perdagangan minyak dunia—membuat biaya pengiriman dan harga minyak mentah (ICP) melonjak hingga tembus 102,26 dolar AS per barel. Kondisi ini secara otomatis memaksa adanya penyesuaian harga di tingkat ritel, termasuk di Indonesia.

Sebagai negara yang masih bergantung pada harga energi internasional, Indonesia tidak luput dari dampak konflik luar negeri. Harapannya, situasi di Timur Tengah segera mereda agar harga energi kembali stabil.***