POLA JABAR - Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mencapai ribuan rupiah per liter tentu memicu pertanyaan di masyarakat. Mengapa konflik yang terjadi jauh di Timur Tengah bisa langsung merembet ke dompet para pengendara di Indonesia?
Penyebab utamanya adalah terganggunya jalur distribusi minyak dunia dan kekhawatiran pasar akan pasokan minyak mentah global. Sebagai produk yang tidak disubsidi oleh pemerintah, harga bensin oktan tinggi seperti Pertamax Turbo dan solar nonsubsidi sangat bergantung pada indeks harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah.
Pecahnya perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran memberikan sentimen negatif bagi pasar energi. Indonesia, yang sebagian kebutuhan minyaknya masih dipenuhi melalui impor, harus menyesuaikan harga jual di level ritel agar beban operasional perusahaan penyedia BBM tetap terjaga. Berbeda dengan Pertalite yang harganya dikunci oleh pemerintah melalui subsidi, produk nonsubsidi bersifat fluktuatif mengikuti perkembangan politik internasional.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap isu geopolitik. Selama konflik di Timur Tengah belum mereda, harga BBM nonsubsidi diprediksi akan terus berada di level yang tinggi.***