POLA JABAR -  Nama R.A. Kartini abadi lewat surat-suratnya yang melampaui zaman. Melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, Kartini menuangkan kegelisahan hati tentang nasib kaum perempuan Jawa yang saat itu terkungkung oleh tradisi feodal yang kaku.

Dalam salah satu surat terkenalnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengeluhkan tradisi pingit yang membuatnya harus meninggalkan sekolah di usia 12 tahun. Ia menuliskan betapa beratnya aturan adat yang melarang anak perempuan keluar rumah, apalagi untuk mengejar pendidikan tinggi.

Lebih dari sekadar keluhan, surat-surat tersebut adalah kritik tajam terhadap praktik pernikahan paksa dan poligami yang marak di kalangan bangsawan. Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama agar perempuan lebih dihargai dan memiliki kesetaraan yang sama dengan laki-laki dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

Surat-surat inilah yang kemudian dikumpulkan oleh J.H. Abendanon menjadi buku legendaris Habis Gelap Terbitlah Terang, yang hingga kini menjadi sumber inspirasi gerakan emansipasi di Indonesia.***