POLAJABAR.COM - Sebuah kasus yang menarik perhatian publik melibatkan seorang bocah yatim piatu dan berkebutuhan khusus di Sukabumi yang menunjukkan kecanduan akut terhadap menghirup uap bensin. Perhatian serius kini mulai diarahkan oleh berbagai lembaga perlindungan anak terhadap fenomena yang dianggap memprihatinkan ini.
Menanggapi viralnya kasus tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) turut mengambil peran aktif. Lembaga-lembaga ini berupaya membedah secara mendalam akar permasalahan di balik perilaku menyimpang tersebut.
Fokus utama dalam penanganan kasus ini adalah pemahaman psikologis mengenai pemicu perilaku tersebut. Seorang psikolog yang juga merupakan Anggota Pokja Pendidikan KPAI memberikan pandangan profesional mengenai kebiasaan unik yang dilakukan oleh anak tersebut.
Psikolog tersebut menjelaskan bahwa dorongan untuk menghirup aroma bensin demi mencari efek menenangkan memiliki korelasi kuat dengan tahapan perkembangan anak. Hal ini bukan semata-mata perilaku adiktif murni, melainkan sebuah respons sensorik.
"Anak-anak pada fase pra-sekolah (sebelum PAUD) biasanya memiliki kebiasaan memilih objek tertentu yang bersentuhan dengan indrawi untuk memicu sensasi tenang," ujar Psikolog Dikdik Hardy.
Kutipan tersebut mengindikasikan bahwa pencarian sensasi melalui indra penciuman mungkin merupakan cara anak tersebut mengatur sistem sarafnya ketika berada dalam kondisi tertentu. Perilaku ini sering muncul pada usia dini ketika regulasi emosi belum sepenuhnya terbentuk.
Dilansir dari sumber berita yang meliput kasus ini, intervensi dari KPAI dan UPTD PPA menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dan lembaga terkait dalam memberikan perlindungan komprehensif bagi anak rentan tersebut. Upaya ini mencakup aspek kesehatan mental dan perlindungan sosial.
Kondisi yatim piatu dan berkebutuhan khusus pada anak tersebut menambah lapisan kompleksitas pada kasus ini, yang memerlukan pendekatan penanganan yang sangat sensitif dan terpadu. Pemahaman psikologis menjadi kunci utama untuk menentukan langkah rehabilitasi yang tepat.
