POLA JABAR - Salah satu alasan kuat di balik rencana penutupan program studi oleh pemerintah adalah terjadinya kelebihan pasokan lulusan di bidang tertentu.

Sektor kependidikan menjadi sorotan utama karena adanya ketimpangan yang sangat tajam antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja.

Badri Munir Sukonco memaparkan data yang cukup mengejutkan; setiap tahunnya Indonesia meluluskan sekitar 490 ribu sarjana keguruan.

Padahal, kebutuhan tenaga pendidik di sektor formal hanya berkisar di angka 20 ribu orang. Artinya, terdapat sekitar 95,92 persen lulusan yang tidak terserap sesuai dengan bidang keahliannya.

Kondisi oversupply ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera melakukan pengendalian jumlah mahasiswa dan peninjauan ulang izin prodi keguruan di berbagai kampus.

Data ini menjadi bahan evaluasi penting bagi calon mahasiswa agar mempertimbangkan matang-matang peluang kerja sebelum memutuskan mengambil jurusan tertentu.***