POLAJABAR.COM - Tragedi lingkungan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, menyisakan luka mendalam bagi warga setempat, khususnya para petani yang kehilangan mata pencaharian. Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah yang dialami oleh Nurdin, seorang tokoh masyarakat di wilayah tersebut.

Nurdin, yang juga menjabat sebagai Ketua RW 05 Kampung Cimangir Tengah, Desa Galuga, kini hanya bisa menyimpan satu benda sebagai pengingat bahwa ia pernah memiliki lahan pertanian. Benda tersebut bukanlah hamparan padi yang siap panen, melainkan hanya selembar sertifikat tanah miliknya.

Lahan yang dulunya menjadi sumber penghidupan utama bagi dirinya dan beberapa warga lainnya kini telah lenyap dari pandangan mata. Kejadian ini berawal dari sebuah insiden besar yang mengubah bentang alam desa mereka secara drastis.

Peristiwa yang menjadi titik balik bagi nasib tanah tersebut adalah terjadinya longsoran sampah pada tahun 2019. Longsoran material limbah domestik tersebut menimbun seluruh area persawahan yang selama ini dikelola dengan tekun.

Kini, di atas bekas sawah yang subur itu, berdiri sebuah 'gunung' sampah yang terus bertambah volumenya setiap hari. Kondisi ini menciptakan ironi yang menyakitkan bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Nurdin mengungkapkan bahwa satu-satunya bukti kepemilikan lahan yang tersisa kini hanyalah dokumen legalitas di lemari rumahnya. "Yang tersisa kini hanya lembar sertifikat," ungkap Nurdin.

Ia mengenang masa lalu ketika lahan tersebut masih berupa batas-batas tanah yang jelas dan bisa ditunjuk dengan jari, bukan tumpukan limbah yang tak berujung. Kondisi ini sangat kontras dengan kenyataan pahit yang ia hadapi saat ini.

Tanah yang kini tertutup gunungan limbah tersebut merupakan aset penting yang menopang ekonomi keluarga Nurdin dan warga sekitar selama bertahun-tahun. Kehilangan sawah berarti kehilangan jaminan hidup mereka.

Peristiwa penimbunan sampah ini menunjukkan dampak nyata dari pengelolaan TPA yang tidak terkontrol, khususnya terkait risiko bencana seperti longsoran material. Kondisi ini menjadi cerminan perjuangan warga lokal mempertahankan lingkungan hidup mereka.