POLA JABAR – Bintang pop global peraih penghargaan Grammy, Olivia Rodrigo, kembali menggebrak industri musik dunia dengan karya teranyarnya. Setelah sukses memuncaki berbagai tangga lagu internasional dengan karya-karya terdahulu, penyanyi berusia 23 tahun ini siap membawa para pendengarnya masuk ke dalam fase musikalitas yang lebih matang dan mendalam.

Penyanyi Olivia Rodrigo kembali merilis lagu terbaru berjudul The Cure yang menjadi single kedua dari album ketiganya. Kehadiran lagu ini langsung memicu perbincangan hangat di kalangan penggemar dan pengamat musik global yang telah lama menantikan kelanjutan dari era estetikanya yang khas.

Menurut laporan Variety.com, lagu tersebut menunjukkan perkembangan musikal sekaligus emosional dari Rodrigo dalam penulisan lirik dan konsep musiknya. Langkah ini membuktikan bahwa dirinya tidak terjebak dalam formula kesuksesan yang sama, melainkan terus mengeksplorasi kemampuan bercerita lewat nada.

Dalam pengerjaan proyek album barunya, Olivia tampak sengaja memberikan kejutan yang kontras bagi para pendengar setianya melalui pemilihan urutan perilisan lagu utama.

Sebelumnya, Olivia lebih dulu merilis single Drop Dead yang menghadirkan suasana lebih ceria dan berhasil debut di posisi puncak tangga lagu. Namun lewat “The Cure”, ia kembali membawa nuansa melankolis yang selama ini identik dengan karya-karyanya.

Pilihan untuk kembali ke akar musik melankolis ini justru disambut antusias karena dinilai sebagai kekuatan terbesar Olivia dalam menyampaikan pesan emosional.

Lagu berdurasi hampir lima menit itu diawali dengan iringan gitar akustik bernada sendu sebelum berkembang menjadi musik dengan emosi yang lebih intens.

Dalam proses produksinya, Rodrigo kembali bekerja sama dengan produser lamanya, Dan Nigro. Kolaborasi apik antara keduanya memang selalu berhasil melahirkan aransemen dinamis yang mampu mengaduk emosi pendengar dari awal hingga akhir lagu.

Banyak kritik musik menilai lagu ini tetap mempertahankan ciri khas emosional Olivia Rodrigo tanpa terlalu mengandalkan unsur rock agresif seperti pada album sebelumnya. Pendekatan yang lebih minimalis namun megah ini membuat vokal Olivia terdengar lebih rapuh sekaligus bertenaga.