POLA JABAR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melemah seiring meningkatnya tensi geopolitik global setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat.
Melansir dari laman resmi AntaraNews, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai peristiwa tersebut berpotensi menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko,” ujar Lukman, dikutip dari AntaraNews pada 5 Januari 2025.
Kronologi Penangkapan Maduro
Mengutip laporan Sputnik, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan operasi militer besar-besaran ke Venezuela.
Operasi tersebut berujung pada penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta pemindahan keduanya ke luar negeri.
Sejumlah media internasional melaporkan adanya ledakan di Caracas dan mengaitkan operasi tersebut dengan keterlibatan unit elit Delta Force militer AS.
Harian The New York Times melaporkan sedikitnya 4.800 orang tewas, termasuk personel militer dan warga sipil, akibat operasi tersebut.
Sementara itu, Anadolu menyebutkan bahwa Venezuela berada dalam kendali sementara Amerika Serikat, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan AS sesuai arahan Presiden Trump.