POLA JABAR – Istilah ‘ain berasal dari bahasa Arab yang berarti “mata”. Dalam konteks Islam, penyakit ‘ain merujuk pada pengaruh negatif dari pandangan mata yang disertai rasa iri, kagum berlebihan, atau dengki, sehingga dapat menimbulkan mudarat bagi orang lain.
Rasulullah saw. menegaskan keberadaan ain melalui hadis:
"Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa" (HR. Muslim).
Penyakit ain biasanya muncul ketika seseorang membagikan pencapaian, prestasi, atau kebahagiaan.
Mata jahat yang dipenuhi iri dan dengki dapat menjalar dan berdampak pada fisik, psikologis, hingga hubungan sosial orang tersebut.
Untuk menghindari ain, Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk sering berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Selain itu, saat memberi pujian kepada orang lain, pastikan menyandarkan pujian kepada Allah Swt. dengan ungkapan seperti “MasyaaAllah” atau “Barakallah”.
Dengan memahami pengertian ain dan adab memberi pujian, masyarakat dapat meminimalkan pengaruh negatif dari pandangan iri atau dengki, sekaligus menjaga hubungan sosial tetap harmonis.***