POLA JABAR – Memasuki puncak arus balik Lebaran, banyak keluarga yang pulang dengan kondisi mobil terisi penuh penumpang dan tumpukan oleh-oleh. Kondisi beban maksimal ini menuntut perhatian ekstra pada sektor ban. Tekanan angin yang biasanya cukup untuk pemakaian harian di dalam kota, mungkin tidak lagi ideal saat mobil dipacu di jalan tol dengan muatan penuh.
Mengabaikan tekanan ban saat mobil bermuatan berat bukan hanya membuat konsumsi BBM boros, tetapi juga sangat berbahaya karena berisiko memicu pecah ban.
Mengapa Tekanan Ban Harus Ditambah Saat Muatan Penuh?
Saat mobil membawa beban berat, dinding samping ban (sidewall) akan lebih tertekan dan melengkung. Jika tekanan angin kurang, gesekan antara ban dan aspal akan meningkat drastis, sehingga suhu ban naik dengan cepat. Suhu panas yang ekstrem inilah yang sering kali merusak struktur kawat di dalam ban dan menyebabkan pecah ban secara mendadak.
Cara Cek Tekanan Ban yang Benar:
- Lihat Stiker Informasi Tekanan Ban: Anda tidak perlu menebak-nebak. Bukalah pintu pengemudi dan cari stiker tabel tekanan ban yang biasanya tertempel di pilar B. Di sana tertera angka ideal untuk kondisi muatan ringan maupun muatan penuh dalam satuan PSI atau Bar.
- Bedakan Tekanan Depan dan Belakang: Pada kondisi muatan penuh, biasanya ban belakang membutuhkan tekanan angin yang lebih tinggi dibandingkan ban depan untuk menopang beban penumpang di baris kedua, ketiga, serta barang di bagasi.
- Cek Saat Ban Kondisi Dingin: Lakukan pengecekan dan pengisian angin sebelum mobil menempuh perjalanan jauh. Jika ban sudah panas setelah dipakai jalan berjam-jam, tekanan udara di dalamnya akan memuai dan memberikan hasil pembacaan yang tidak akurat.
Gunakan Nitrogen Jika Memungkinkan
Untuk perjalanan arus balik yang panjang, penggunaan angin nitrogen sangat disarankan. Molekul nitrogen lebih besar sehingga tidak mudah bocor melalui pori-pori ban, serta memiliki sifat yang lebih dingin sehingga tekanan ban lebih stabil meskipun mobil dipacu dalam waktu lama.
Jangan Lupa Ban Serep!