POLA JABAR – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang emiten baru di awal tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menargetkan sebanyak 50 perusahaan dapat melangsungkan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sepanjang tahun 2026.
Target ambisius ini telah tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 sebagai upaya memperkuat likuiditas pasar saham domestik.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Nyoman Gede Yetna, memberikan bocoran bahwa pada Kuartal I 2026, terdapat dua perusahaan berskala besar atau lighthouse yang siap melantai di bursa.
Kedua perusahaan raksasa tersebut masing-masing berasal dari sektor infrastruktur dan sektor pertambangan (mining). Kehadiran perusahaan lighthouse ini diharapkan mampu menjadi daya tarik utama bagi para investor, baik domestik maupun asing, di pembukaan tahun ini.
Hingga data terakhir Desember 2025, tercatat sudah ada sembilan perusahaan yang masuk dalam pipeline atau antrean IPO 2026.
Berdasarkan regulasi OJK, komposisi calon emiten ini cukup beragam; mulai dari enam perusahaan skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar, satu perusahaan skala menengah, hingga dua perusahaan skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar.
Keragaman ini menunjukkan bahwa akses pasar modal kini semakin terbuka bagi berbagai level ukuran korporasi.
Dari sisi sektoral, sektor keuangan mendominasi antrean dengan tiga perusahaan, disusul oleh sektor material dasar sebanyak dua perusahaan.
Sektor-sektor strategis lainnya seperti energi, industri, teknologi, serta transportasi dan logistik juga masing-masing menyumbangkan satu perusahaan dalam pipeline tersebut.