POLA JABAR – Memasuki tahun 2026, antusiasme investor terhadap penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) semakin meningkat seiring munculnya nama-nama perusahaan besar dalam radar pasar modal.
Meski Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memiliki daftar antrean resmi, beberapa korporasi strategis diprediksi akan menjadi sorotan utama jika mereka merealisasikan rencana melantai di bursa pada tahun ini.
Salah satu nama yang paling dinantikan adalah Bank DKI. Sinyal go public bank milik daerah ini sebenarnya sudah menguat sejak Mei 2025, setelah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melakukan pembahasan intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pihak OJK sendiri telah memberikan restu bagi Bank DKI untuk IPO guna memperkuat permodalan dan meningkatkan transparansi tata kelola perusahaan.
Namun, investor tampaknya harus sedikit bersabar, sebab hingga Desember 2025 lalu, nama Bank DKI belum tercatat dalam pipeline resmi terbaru milik BEI.
Selain sektor perbankan, sektor logistik dan infrastruktur pertambangan juga memiliki jagoan potensial, yakni Titan Infra Sejahtera.
Perusahaan yang mengelola infrastruktur batubara di Sumatera Selatan ini telah lama memberikan sinyal untuk melepas sekitar 10 persen sahamnya ke publik.
Langkah ini dinilai strategis mengingat sektor energi dan infrastruktur pendukungnya masih menjadi primadona di tengah kebutuhan logistik yang terus meningkat.
Sektor energi hijau juga tidak ketinggalan dengan munculnya nama Neo Energy. Perusahaan yang fokus pada hilirisasi nikel dan bahan baku baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) ini dikabarkan sedang menyiapkan langkah IPO.