Opini ditulis oleh Dr. Sn. Mohamad Rudiana. S.Sen,.M.Sn, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
 
POLA JABAR - Di tengah derasnya arus digitalisasi industri musik, satu pertanyaan mendasar kembali mengemuka: bagaimana memastikan musik lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan berdaya saing?

Di saat algoritma dan pasar global cenderung menyeragamkan selera, ruang bagi ekspresi lokal kerap terpinggirkan. Namun, di tengah tantangan tersebut, muncul upaya-upaya strategis yang berusaha menegaskan kembali pentingnya akar budaya dalam ranah  industri musik modern.

Salah satunya terlihat melalui Program Akselerasi Kreatif (AKTIF) Musik  yang digagas Direktorat Musik Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, khususnya dalam implementasinya di Jawa Barat.

Di bawah arahan langsung dari  Dr. Muhammad Amin, M.Sn, MA, Direktur Musik, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementrian Ekonomi Kretif ditunjuklah Dwiki Dharmawan dan Budi Setiawan Garda Pandawa  untuk menjadi tim kreatif.

Menurut Sudaryana, S.Sn., MM, Adyatama Kepariwisataan Ekonomi Kreatif Ahli Madya, Program Akselerasi Kreatif (AKTIF) Musik merupakan upaya strategis dalam membangun ekosistem industri musik daerah yang berkelanjutan  dan terukur. Program ini tidak hanya berfokus pada produksi karya, tetapi juga mencakup dukungan menyeluruh melalui pendanaan (seperti video musik), fasilitasi aspek hukum (hak cipta dan hak terkait), promosi, komersialisasi, serta monitoring dan evaluasi.

Lebih lanjut, AKTIF Musik menekankan penguatan komunitas dan praktik langsung dalam pengembangan IP musik lokal, khususnya bagi musisi daerah pada tier 3 dan 4. Program ini juga berorientasi pada perluasan distribusi dan promosi karya, serta peningkatan kualitas storytelling (storynomic) guna mendorong daya tarik dan popularitas musik di tingkat yang lebih luas, ujarnya.

Program ini tidak sekadar menjadi ajang produksi karya, melainkan sebuah langkah konkrit dalam membangun ekosistem musik berbasis lokal.  Jawa Barat dipilih sebagai salah satu locus program bukan tanpa pertimbangan. Wilayah ini dikenal memiliki kekayaan tradisi musikal yang beragam, mulai dari musik tradisional hingga bentuk-bentuk hibrida kontemporer yang tumbuh dari komunitas kreatif. Selain itu, dinamika pelaku seni di Jawa Barat menunjukkan adanya potensi besar yang, jika dikelola dengan tepat dan serius  dapat menjadi kekuatan penting dalam industri musik nasional yang khas.

Namun demikian, potensi tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan. Tanpa arah yang jelas, banyak karya lokal yang akhirnya tenggelam dalam arus besar industri. Di sinilah pentingnya peran kurasi  sebuah proses seleksi sekaligus penajaman visi artistik. Kehadiran Dwiki Dharmawan dalam program AKTIF Musik  menjadi titik kunci dalam menentukan arah tersebut.

Sebagai seorang musisi sekaligus kurator, Dwiki bukan sosok baru dalam dunia musik Indonesia. Ia dikenal luas sebagai seniman yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan musik-musik lokal. Komitmennya terhadap eksplorasi dan pengembangan musik etnik telah membawanya pada pengakuan sebagai salah seorang “Icon Of Indonesian Ethnik Musik” pada MarkPlus Converence 2025. Penghargaan tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mencerminkan perjalanan panjangnya dalam mengangkat nilai-nilai tradisi ke dalam ruang musikal yang lebih luas dan relevan.