Opini ditulis oleh Dr.Sn., Mohamad Rudiana, S.Sn.,M.Sen, Dosen FSP ISBI Bandung
 
POLA JABAR - Komunitas Kendangers merupakan salah satu komunitas di Kota Bandung yang terbentuk pada tanggal 17 Maret 2017 dengan ketua Ricky Oktriadi. Komunitas ini adalah perkumpulan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama, yaitu bermain Kendang. Mereka berkumpul untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam memainkan Kendang, sekaligus menjalin silaturahmi dan mempererat persahabatan di antara para penggemar Kendang.

Seiring waktu, komunitas ini berkembang tidak hanya sebagai ruang berkesenian, tetapi juga sebagai wadah yang menghidupkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Dari titik inilah, lahir berbagai inisiatif yang menghubungkan budaya dengan isu-isu kehidupan yang lebih luas, termasuk persoalan lingkungan.

Di tengah semakin seringnya bencana ekologis, banjir, longsor, hingga krisis iklim yang kian terasa,  kita kerap mencari solusi dalam teknologi, kebijakan, atau wacana global. Namun, sering kali kita lupa bahwa jawaban itu sebenarnya sudah lama hidup di sekitar kita, tertanam dalam nilai-nilai budaya lokal. Salah satunya adalah falsafah Sunda: ngamumule alam atau memelihara alam.

Filosofi ini bukan sekadar ajakan normatif untuk menjaga lingkungan, melainkan sebuah  cara pandang hidup. Alam tidak ditempatkan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat. Dalam ungkapan “Tinu Hirup, Jang Nu Hirup, Keur Kahuripan”, tersirat pesan bahwa kehidupan harus saling menghidupi, antara manusia dan alam, bukan sebaliknya.

Apa yang dilakukan Komunitas Kendangers Jawa Barat melalui gerakan “KENDANG TO EARTH” menjadi contoh konkret bagaimana falsafah ini tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir sebagai tindakan. Penanaman 500 pohon nangka di 16 titik bukan hanya angka atau seremoni Hari Bumi, melainkan simbol kesadaran, bahwa budaya dan alam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  

Ada satu hal yang menarik untuk direnungkan. Kendang  merupakan alat musik yang menjadi identitas para anggota komunitas ini dibuat dari kayu, salah satunya dari pohon nangka. Artinya, setiap bunyi yang dihasilkan Kendang sesungguhnya berasal dari alam. Dari sini muncul pertanyaan sederhana namun mendasar: jika pohonnya hilang, masihkah budaya itu bisa bertahan?

Ketua Kendangers periode 2026–2031, Cucu Kurnia atau dikenal Cucu Zbet, menyampaikan kegelisahan yang relevan dengan kondisi hari ini, “Setinggi-tingginya visi Kendangers, tidak akan maksimal jika kesadaran ekologinya tidak diejawantahkan. Sebelum sampai ke puncak mercusuar dunia, bisa saja kita sudah terbawa derasnya  air banjir dan bencana lainnya.
 Alasan yang lebih spesifik, mengapa misinya penanaman, karena bahan dasar instrument Kendang itu sendiri berasal dari pohon. Ini juga bagian dari pelestarian serta kebutuhan regenerasi Kendang di masa yang akan datang,” ujarnya.

Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa visi besar bahkan yang berorientasi global akan rapuh jika tidak berpijak pada kesadaran ekologis. Kita bisa berbicara tentang kemajuan budaya, internasionalisasi seni, atau bahkan “mercusuar dunia”, tetapi semua itu bisa runtuh jika fondasi alamnya diabaikan.

Komunitas Kendangers, dengan hampir 1500 anggota aktif  yang tersebar hingga ke berbagai negara seperti Nanning (Tiongkok), Amerika Serikat, Australia, dan berbagai wilayah lainnya, menunjukkan bahwa budaya lokal bisa mendunia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana mereka tidak kehilangan akar. Justru di tengah jejaring global itu, mereka kembali pada hal yang paling mendasar yaitu  menanam pohon.