POLA JABAR – Bagi masyarakat yang tinggal atau sering melintasi wilayah Jawa Barat, istilah "Banjir Cileuncang" tentu sudah tidak asing lagi di telinga.
Fenomena ini kerap muncul sesaat setelah hujan deras mengguyur, ditandai dengan genangan air yang menutupi ruas jalan dan pemukiman, namun biasanya surut dalam waktu yang relatif singkat.
Meskipun sering dianggap sebagai kejadian biasa, banjir cileuncang menjadi indikator nyata adanya masalah pada sistem drainase dan tata ruang wilayah.
Secara teknis, cileuncang terjadi ketika debit air hujan yang turun tidak mampu dialirkan secara cepat oleh saluran pembuangan (drainase) ke sungai atau kolam retensi.
Penyebab Utama dan Karakteristik
Berbeda dengan banjir bandang yang disebabkan oleh luapan sungai besar, banjir cileuncang lebih banyak dipicu oleh faktor lokal.
Salah satu penyebab utamanya adalah penyempitan atau tersumbatnya gorong-gorong oleh sampah dan sedimen lumpur.
Selain itu, maraknya penutupan lahan dengan aspal dan beton membuat air hujan tidak memiliki celah untuk meresap ke dalam tanah.
"Cileuncang ini sebenarnya adalah air yang 'tersesat'. Mereka mencari jalan ke bawah, tapi karena tanah tertutup beton dan selokan mampet, akhirnya air berkumpul di badan jalan," ungkap salah satu praktisi tata kota.