POLA JABAR - Bagi banyak orang, mangga adalah buah tropis yang identik dengan rasa manis yang luar biasa, seringkali memicu kekhawatiran besar bagi penderita diabetes tentang apakah mereka boleh menikmatinya tanpa memicu lonjakan kadar gula darah.
Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat mangga memang mengandung sejumlah gula alami (fruktosa) yang cukup tinggi.
Satu cangkir (sekitar 165 gram) potongan mangga segar dapat mengandung lebih dari 22 gram gula dan sekitar 25 gram karbohidrat, menjadikannya salah satu buah dengan kandungan gula yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah beri atau apel.
Angka-angka inilah yang sering membuat para pengidap diabetes cenderung menghindari mangga secara total.
Namun, pandangan dari ahli nutrisi dan rujukan dari sumber kredibel seperti Healthline memberikan perspektif yang lebih seimbang dan jauh dari larangan mutlak, menegaskan bahwa mangga tetap dapat menjadi bagian dari diet diabetes yang sehat, asalkan dikonsumsi dengan strategi dan porsi yang tepat.
Kunci utamanya terletak pada pemahaman tentang Indeks Glikemik (IG) buah ini dan bagaimana nutrisi lain di dalamnya bekerja.
Fakta penting yang sering diabaikan adalah bahwa meskipun memiliki kandungan gula yang tinggi, mangga termasuk dalam kategori makanan dengan Indeks Glikemik (IG) rendah hingga sedang.
IG mangga matang biasanya berkisar antara 51 hingga 56, angka yang menempatkannya dalam batas aman untuk konsumsi penderita diabetes dalam jumlah moderat, sesuai dengan panduan dari American Diabetes Association (ADA).
Indeks Glikemik sendiri adalah ukuran seberapa cepat suatu makanan dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah setelah dikonsumsi. Status IG sedang pada mangga ini berarti gula yang terkandung di dalamnya tidak diserap ke dalam aliran darah secepat gula dari makanan olahan atau minuman manis.