POLA JABAR - Siapa yang bisa menolak aroma menggoda dari sate yang baru saja diangkat dari panggangan? Kuliner khas yang populer di berbagai kalangan ini memang selalu menggugah selera. 

Namun, dibalik kelezatannya, muncul sebuah pertanyaan besar yang sering diperdebatkan dalam dunia kesehatan: apakah sate benar-benar termasuk kategori makanan sehat?

Secara komposisi dasar, sate sebenarnya memiliki potensi menjadi sumber nutrisi yang sangat baik. Mengacu pada panduan nutrisi dari berbagai ahli diet di Mayo Clinic, daging yang menjadi bahan utama sate baik itu ayam, sapi, maupun kambing merupakan sumber protein berkualitas tinggi, vitamin B12, dan zat besi yang dibutuhkan tubuh untuk energi serta pemeliharaan jaringan otot.

Sisi Sehat dari Tusukan Sate

Jika dilihat dari proses memasaknya, sate memiliki keunggulan dibandingkan dengan makanan yang digoreng (deep-fry). Karena dipanggang, sate biasanya menggunakan lebih sedikit minyak tambahan, sehingga kadar lemak trans dan kalorinya bisa ditekan. 

Terutama jika Anda memilih bagian daging tanpa lemak atau dada ayam, sate dapat menjadi menu diet yang padat protein dan rendah karbohidrat.

Namun, nilai kesehatan sate sangat bergantung pada dua hal utama yakni cara pengolahan dan pendampingnya.

Tantangan di Balik Bara Api

Para ahli kesehatan seringkali memberikan catatan kritis terkait metode membakar daging di atas arang secara langsung. Proses pembakaran dengan suhu yang sangat tinggi hingga menyebabkan bagian daging menghitam (gosong) dapat memicu munculnya senyawa kimia yang disebut Heterocyclic Amines (HCAs) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs).