POLA JABAR – Masalah aroma tidak sedap dari tumpukan sampah di wilayah Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, mendapat perhatian serius dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan pada Senin, 13 April 2026, Farhan menegaskan pentingnya kenyamanan warga yang terganggu akibat sistem pengelolaan yang dinilai belum sempurna.

Kegelisahan Wali Kota muncul setelah dirinya melakukan pemantauan langsung secara mandiri di kawasan tersebut. Ia merasakan sendiri dampak negatif dari residu sampah yang masih tercium oleh publik pada waktu-waktu tertentu.

“Artinya ada yang salah dalam pengelolaan sampah, ini harus dibenahi,” ujarnya.

Merespons sorotan Wali Kota, Lurah Panjunan, Iya Sunarya, menjelaskan bahwa sebenarnya masyarakat setempat telah cukup proaktif dalam menjalankan program pengelolaan sampah mandiri.

Berdasarkan data kewilayahan, tingkat kesadaran warga dalam memisahkan sampah dari sumbernya telah mencapai angka yang signifikan.

Lurah memaparkan bahwa sistem komposting untuk sampah organik pun telah berjalan. Setiap harinya, sebanyak 1 hingga 2 ton sampah organik mampu diolah oleh komunitas lokal sehingga mengurangi beban pembuangan ke tempat pembuangan akhir.

“Sudah berjalan sejak 2021, siklusnya 30 hari, jadi tidak pernah menumpuk,” jelasnya.

Mendengar penjelasan tersebut, Muhammad Farhan memberikan apresiasi atas partisipasi aktif warga yang mencapai 85 persen dalam hal pemilahan.

Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan prosedur di atas kertas harus selaras dengan kondisi di lapangan. Bau menyengat yang masih timbul menjadi indikator bahwa ada mata rantai pengolahan yang belum optimal, terutama pada aspek teknis.