POLA JABAR – Penetapan hari raya Idul Fitri di Arab Saudi selalu menjadi sorotan dunia. Untuk tahun 1447 Hijriah atau 2026, data astronomis menunjukkan adanya kondisi spesifik terkait posisi bulan sabit (hilal) di wilayah Riyadh dan sekitarnya.
Hal ini memicu diskusi di kalangan pakar mengenai apakah Ramadan di sana akan digenapkan menjadi 30 hari atau tidak.
Berikut adalah poin-poin penting terkait prediksi Lebaran di Arab Saudi:
1. Dasar Penentuan Awal Ramadan
Arab Saudi telah memulai awal Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026. Berdasarkan kalender tersebut, pemantauan hilal pertama seharusnya dilakukan pada 18 Maret 2026. Namun, secara astronomis, hilal mustahil terlihat pada tanggal tersebut karena bulan terbenam lebih awal dari matahari. Kondisi ini otomatis membuat Ramadan di Arab Saudi berpotensi besar digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
2. Analisis Posisi Hilal di Riyadh
Berdasarkan data dari Astronomy Center, pada Kamis, 19 Maret 2026, posisi bulan di Riyadh tercatat terbenam 30 menit setelah matahari. Usianya mencapai 14 jam 38 menit dengan jarak sudut (elongasi) dari matahari sebesar 6,9 derajat. Meski sudah di atas ufuk, kondisi ini dikategorikan sangat sulit untuk dilihat, bahkan dengan bantuan teleskop sekalipun, kecuali jika atmosfer benar-benar jernih.
3. Batas Visibilitas Mata Telanjang
Direktur Pusat Astronomi Internasional, Mohammed Shawkat Odeh, menjelaskan bahwa rekor terendah hilal yang pernah terlihat mata telanjang biasanya membutuhkan waktu tunda minimal 29 menit, usia 15 jam 33 menit, dan elongasi 7,6 derajat. Karena data di Riyadh (usia 14 jam & elongasi 6,9) berada di bawah nilai tersebut, maka pengamatan manual tanpa alat akan sangat menantang.