POLA JABAR - Dalam dunia pertanian global, kacang hijau atau Vigna radiata bukan sekadar komoditas biasa. Sebagai salah satu sumber protein nabati tertua yang dikenal manusia, kacang hijau telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan data dan perspektif dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), tanaman ini memiliki sejarah migrasi yang sangat panjang dan menarik untuk ditelusuri.

Akar Sejarah: Bermula dari Asia Selatan

Para arkeobotani dan ahli sejarah pangan sepakat bahwa pusat keragaman genetik kacang hijau berasal dari Asia Selatan, khususnya wilayah India. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa budidaya kacang hijau telah dilakukan sejak 1.500 hingga 1.000 tahun sebelum Masehi. Di wilayah ini, kacang hijau tumbuh liar sebelum akhirnya didomestikasi oleh petani kuno karena kemampuannya beradaptasi di lahan kering.

Keunggulan utama yang membuat kacang hijau bertahan sejak zaman purba adalah masa panennya yang singkat. Tanaman ini hanya membutuhkan waktu sekitar 60 hingga 75 hari untuk matang, menjadikannya tanaman sela yang ideal bagi para petani tradisional di India kuno.

Jalur Penyebaran ke Asia Tenggara dan Tiongkok

Penyebaran kacang hijau ke luar India diperkirakan mengikuti jalur perdagangan kuno. Pada awal abad pertama, tanaman ini mulai merambah wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Vietnam. 

Adaptasi kacang hijau di wilayah tropis tergolong sangat cepat karena tanaman ini sangat menyukai paparan sinar matahari yang intens dan tanah yang memiliki drainase baik.

Di Tiongkok, catatan sejarah menunjukkan bahwa kacang hijau telah menjadi bagian dari kuliner dan pengobatan tradisional sejak ribuan tahun lalu.