POLA JABAR - Siapa yang tidak mengenal onde-onde? Jajanan berbentuk bulat dengan taburan wijen yang melimpah dan isian kacang hijau manis ini telah lama menjadi primadona di pasar tradisional Indonesia.

Namun, di balik popularitasnya sebagai camilan lokal, onde-onde menyimpan catatan sejarah panjang yang melintasi samudera dan benua.

Jajanan ini bukanlah sekadar produk asli Nusantara, melainkan buah dari akulturasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Menelusuri akar sejarahnya membawa kita kembali ke masa kejayaan kekaisaran di daratan Tiongkok, di mana kue ini memiliki makna filosofis dan peran penting dalam tradisi perayaan masyarakat setempat.

Warisan Dinasti Tang dan Evolusi Nama

Sejarah mencatat bahwa onde-onde pertama kali muncul pada masa Dinasti Tang di Tiongkok, sekitar abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. 

Pada waktu itu, kudapan ini dikenal dengan nama ludeui. Kue ini awalnya merupakan makanan khas masyarakat di daerah Chang’an yang sering disajikan sebagai hidangan istimewa bagi kaum bangsawan dan penguasa.

Teksturnya yang kenyal melambangkan kebersamaan, sementara bentuknya yang bulat sempurna dianggap sebagai simbol keberuntungan dan keharmonisan keluarga.

Seiring berkembangnya zaman, penyebaran ludeui meluas ke berbagai wilayah di Asia Timur.