POLA JABAR - Udang mungkin kini menjadi bintang utama dalam sajian fine dining atau pesta barbekyu di akhir pekan. Namun, jika kita memutar waktu kembali ke beberapa abad lalu, krustasea ini memiliki kasta yang sangat berbeda di meja makan. 

Sejarah kuliner dunia mencatat bahwa udang melewati perjalanan panjang yang penuh liku sebelum akhirnya dinobatkan sebagai salah satu hasil laut paling digemari di planet ini.

Santapan Para Pesisir di Zaman Kuno Berdasarkan catatan sejarah, manusia telah mengkonsumsi udang sejak ribuan tahun lalu. Di zaman kuno, udang bukanlah barang mewah.

Masyarakat pesisir di wilayah Mediterania hingga Asia Tenggara mengandalkan udang sebagai sumber protein utama karena jumlahnya yang melimpah dan mudah ditangkap tanpa peralatan canggih.

Menariknya, di zaman Romawi kuno, udang mulai mendapatkan perhatian lebih. Para koki Romawi mulai bereksperimen dengan mengawetkan udang menggunakan garam atau difermentasi menjadi saus ikan yang dikenal sebagai garum. Namun, bagi masyarakat pedalaman yang jauh dari laut, udang tetap menjadi misteri karena sulitnya transportasi sebelum era pendingin ditemukan.

Revolusi Koktail Udang dan Era Emas 1920-an Salah satu titik balik paling ikonik dalam sejarah kuliner udang terjadi di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Menurut data sejarah, sebelum tahun 1910-an, udang masih jarang muncul di buku resep elit. Semuanya berubah ketika konsep "Shrimp Cocktail" lahir.

Menu ini menjadi sangat populer selama era Pelarangan Alkohol (Prohibition) di Amerika pada tahun 1920-an. Karena bar-bar dilarang menyajikan minuman keras, mereka mengubah gelas martini menjadi wadah untuk udang rebus yang disajikan dengan saus pedas asam. Sejak saat itulah, udang mulai diasosiasikan dengan gaya hidup kelas atas dan pesta-pesta elegan.

Teknologi yang Mengubah Segalanya Dahulu, menikmati udang segar di tengah kota besar adalah sebuah kemewahan yang hampir mustahil. Namun, penemuan teknologi pembekuan cepat (flash freezing) dan kapal pukat harimau pada pertengahan abad ke-20 mengubah lanskap industri ini. Udang tidak lagi hanya tersedia secara musiman atau di daerah pesisir saja.

Permintaan global yang melonjak memicu lahirnya industri budidaya udang besar-besaran, terutama di wilayah tropis seperti Asia dan Amerika Latin. Udang yang dulunya liar, kini menjadi komoditas industri yang dikelola secara masif untuk memenuhi selera jutaan orang di seluruh dunia.